Custom Search

Sabtu, 26 Mei 2012

Selamat Jalan Gus Dur

Innaa lillahi wa inna ilaihi raji’un. Rabu, 30 Desember 2009 sebagaimana hari-hari biasa para santri Tebuireng selepas shalat maghrib melakukan aktifitasnya mengaji Kitab Kuning di serambi masjid dan wisma. Mereka belum sadar dan tidak menyangka bahwa guru mereka KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pukul 18.45 WIB. meninggal dunia di RSCM Jakarta. Karena Kamis sebelumnya 24/12/2009, mereka masih bisa mencium tangan cucu pendiri Pesantren Tebuireng itu saat Gus Dur berziarah ke makam KH. M. Hasyim Asy’ari kakeknya dan ayahandanya KH. Abdul Wahid Hasyim.

KH. Salahuddin Wahid yang berada di Tebuireng menerima SMS dari saudarnya di Jakarta pun belum yakin dengan meninggalnya kakak pertama dari enam bersaudara itu. Kabar pun tersiar luas ketika Gus Sholah melakukan wawancara dengan TV One sebelum tim kedokteran RSCM melakukan jumpa pers.

Para santri terhenyak mendengar kepergian tokoh idolanya. Gus Dur bukan hanya milik para santri, NU, dan Indonesia. Gus Dur sudah menjadi tokoh internasional. Presiden SBY pun menginstruksikan pengibaran bendera setengah tiang sebagai tanda hari berkabung nasional. Tidak lain karena Gus Dur adalah Presiden ke-4 dan tokoh demokrasi Indonesia.

Barangkali sudah menjadi firasat, ketika Gus Dur dirawat di RSUD Jombang (24/12) karena kelelahan setelah silaturrahim ke KH. Musthofa Bisri Rembang dan ta’ziyah ke makam kakeknya. Ketika sepupunya KH. Abdul Hakam putra KH. Abdul Kholiq Hasyim Kamis malam Jum’at depan (31/12) diminta menjemputnya di Tebuireng. Ternyata Gus Dur benar-benar menepati janjinya beliau benar-benar datang, namun hanya jasadnya.

Atas pertimbangan keamanan dari Paspampres RI sholat jenazah untuk umum dilakukan di Masjid Ulil Albab yang berada di belakang kompleks Pesantren Tebuireng. Karena pemakaman Gus Dur dilakukan dengan upacara militer yang dipimpin langsung oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono. Para penta’ziyah yang boleh mengikuti proses pemakaman pun dibatasi para kerabat, pejabat, dan kyai-kyai sepuh. Semua tamu harus melewati pemeriksaan dari Paspampres.

Sebenarnya pihak keluarga dan Pesantren Tebuireng ingin memberi kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat umum untuk bisa juga mengikuti acara pemakaman. Namum karena keterbatasan ini, keluarga besar KH. Abdurrahman Wahid dan Pesantren Tebuireng mohon ma’af yang sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan ini.

Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut mendo’akan, memberi bantuan materiil, mengirimkan karangan bunga dan ikut membantu proses pemakaman. Jazaakumullahu ahsana al-jazaa’.

Selamat Jalan Guru Kami, GUS DUR....

Rabu, 23 Mei 2012

Ribuan Orang Hadiri 100 Hari Wafatnya Gus Dur

Peringatan 100 hari wafatnya KH. Abdurrahman Wahid awalnya akan diadakan secara sederhana, namun demikian pengunjung tetap saja membludak. Panitia hanya menyiapkan akomodasi dan konsumsi seadanya, tapi ternyata tanpa diduga banyak simpatisan yang memberi bantuan. Misalnya seorang kyai “gusdurian” dari Pasuruan yang mengirimkan 7 set sound system yang dipasang di dalam dan luar pondok, sehingga alunan yasin dan tahlil dapat diikuti oleh  masyarakat yang ada di luar pondok dengan khusyu’.

Media televisi JTV dan BBS TV pun juga ikut menyiarkan secara langsung, selain beberapa TV nasional dan media cetak juga meliput acara ini. Bahkan BBS TV juga menyediakan 4 layar lebar bagi pengunjung yang tidak bisa masuk ke dalam pondok.

Demikian juga konsumsi, panitia hanya menyediakan 7 ribu kotak sanck, namun pada hari H, banyak yang menyumbangkan snanck hingga jumlahnya mencapai 15 ribu kotak snack, berasal dari Jombang, Mojokerto, Surabaya dan beberapa kota lainnya.

Sudah menjadi komitmen Pesantren Tebuireng untuk tidak membuat proposal bantuan dana ke pihak manapun untuk acara ini. “Jangan minta dana kemanapun, semua ditanggung oleh keluarga, jangan merepotkan orang lain” wanti-wanti Gus Sholah kepada panitia. Demikian pula tidak satu rupiah pun dana acara ini diambil dari keuangan pondok. Akan tetapi jika ada pihak-pihak yang ingin menyumbang jangan ditolak, seperti terlihat beberapa perusahaan turut membagi-bagikan produk maupun souvenir secara cuma-cuma kepada para pengunjung, asal tidak untuk komersial.

Acara dimulai tepat pukul 19.30 WIB. setelah shalat Isya’. Hadir keluarga besar Gus Dur, Zannubah Arifah Khafshah (mbak Yenny Wahid), Allisa Qatrunnada, Inayah Wulandari, dua adik Gus Dur; Lilik Wahid dan Aisyah Hamid Baidlowi, sementara Ibu Sinta Nuriyah tidak tampak hadir. Hadir pula Dr. KH. Tolchah Hasan yang didaulat memberi mauidhoh hasanah.

KH. Salahuddin Wahid dalam sambutannya mengharap perhatian pemerintah terhadap masalah yang muncul pasca wafatnya Gus Dur. Diantaranya banyaknya peziarah ke Tebuireng, jika sebelumnya setiap hari sekitar 700 peziarah, namun pasca wafatnya Gus Dur peziarah meningkat 2.000 peziarah tiap hari. Bahkan pada hari-hari libur Sabtu dan Minggu bisa mencapai 5.000 peziarah. Dampaknya bermunculan pula PKL di sekitar pondok.

Karena itu, pihak Ponpes memberlakukan peraturan yang bisa tidak menyamankan peziarah. Misalnya pada jam-jam tertentu kompleks ini sengaja ditutup untuk umum. Pukul 04.30 sampai pukul 07.00 peziarah dilarang masuk, karena area Ponpes untuk kegiatan santri. Pukul 19.00–20.00 juga ditutup karena masjid dipakai untuk mengaji para santri. Baru di luar jam itu peziarah bebas masuk lokasi ini.

Untuk menjaga ketenangan santri dalam belajar, parkir yang semula di tempatkan di sekitar Masjid Ulil Albab dipindah ke emplasemen PG. Cukir dan Desa Kwaron, akan tetapi hal ini juga kemacetan dan pemandangan kumuh di depan pondok dan sekitarnya. Untuk itu sebagaimana yang sudah diusulkan oleh Pemda Jombang dan Pemprov Jatim, akan dibangun di belakang pondok. Namun hal itu membutuhkan dana yang sangat besar.

Hal itu pula yang dibantah oleh Gus Sholah, muncul rumor di masyarakat bahwa makam Gus Dur akan direnovasi dengan anggaran 100 milyar. “Kecuali makam Gus Dur dibuat dari emas” guraunya. Jadi anggaran milyaran itu bukan semata untuk makam Gus Dur, akan tetapi untuk infra struktur pembangunan tempat parkir dan jalan menuju ke makam Gus Dur dapat diakses dari beberapa kecamatan di wilayah Jombang.

Sementara Mbak Yenny Wahid mengaku sering bermimpi bertemu dengan Gus Dur berkaitan dengan beberapa hal yang terjadi akhir-akhir ini, “tentang isi mimpinya tidak bisa disampaikan” ujarnya.

KH. Tolchah Hasan yang mengenal Gus Dur sejak beliau mondok di Tebuireng sekitar tahun 1950-an mengatakan ada hal yang tidak bisa ditiru oleh banyak orang “Gus Dur sangat istiqomah membela orang lemah”. Gus Dur orangnya sangat berani, tidak ada seorangpun yang ditakuti oleh Gus Dur, Gus Dur hanya takut kepada Allah. Jika yang ditakuti hanya Allah, maka kita tidak akan takut kepada siapapun, itulah maqom Gus Dur.

Khatmil Qur'an Cetak Rekor MURI

Yang berbeda pada acara peringatan 100 hari wafatnya Gus Dur kali ini adalah lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang dibaca secara serentak oleh 1.503 para hafadz santri Madrasatul Qur’an Tebuireng dan banyak juga yang datang dari Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jakarta. Pihak MURI pun memberi apresiasi dengan memberi piagam rekor MURI pembaca Al-Qur’an terbanyak salama ini.

Piagam diserahkan oleh Senior Manager MURI Paulus Pangka  diterima oleh Aisyah Hamid Baidlowi yang kemudian diteruskan kepada KH. Syakir Ridlwan salah seorang pengasuh PP. Madrasatul Qur’an.

Minggu, 20 Mei 2012

Gempa Tidak Pengaruhi Arah Kiblat

Pesantren Tebuireng bekerjasama dengan Ma’had Aly Al-Mahfudz Seblak dan Kementerian Agama RI mengadakan Semiloka yang bertajuk “Problematika Arah Kiblat & Waktu Sholat, Urgensi dan Sosialisasi”. Acara dilaksanakan dari tanggal 12-14 Juli 2010. Peserta yang hadir hampir dari seluruh Indonesia; Aceh, Jambi, Makassar, Madura, Jayapura Papua dan beberapa daerah lainnya. Mereka adalah para dosen, pengurus pondok, pengurus NU, dewan masjid, santri, dan mahasiswa. Hadir dalam acara pembukaan KH. Salahuddin Wahid (Pengasuh Pesantren Tebuireng) dan Dr. H. Amin Haedari (Kepala Badan dan Litbang Kemenag RI).

Sebagaimana diketahui akhir-akhir ini berhembus kabar bahwa arah kiblat mengalami pergeseran akibat gempa yang sering terjadi di Indonesia. Diantara hasil dari diskusi para ahli dan peserta disimpulkan bahwa gempa tidak mengakibatkan bergesernya arah kiblat.

Gempa tidak akan berpengaruh pada posisi ka’bah dan arah kiblat masjid di Indonesia, walau ada pergeseran lempeng bumi yang tiap tahun diperkirakan sebesar 7 cm. Pergeseran lempeng bumi akan berpengaruh terhadap arah kiblat apabila pergeseran itu sudah berlangsung ribuan tahun.

Sebagai gambaran, pergeseran sebesar 0 derajat  0 menit 0.1 detik = 35 cm, Artinya apabila bergeser 7 cm/tahun tidak berpengaruh. Dan bahkan apabila terjadi pergeseran sejauh 1 km dibutuhkan waktu selama 14.285,7 tahun. Dan itupun hanya ada perubahan 0.5 detik (sangat sulit untuk diukur ), jadi itu juga tidak berpengaruh sama sekali

Para ahli yang datang memberikan materi antara lain;

1. Dr. H. Amin Haedari (Kepala Badan dan Litbang Kemenag RI);
2. Prof. Dr. H. Jamaluddin Mirri, Lc. MA. (Mudir Ma’had ‘Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng);
3. Dr. Ir. Zainal Abidin, M.Sc. (Mudir Ma’had ‘Aly Al-Mahfudz Seblak);
4. Dr. Sopa AR, MA. (Majelis Ulama Indonesia);
5. Drs. Muhyiddin Khazin, M.Si. (Badan Hisab Rukyat Kemenag RI);
6. Drs. H. Syamsuddin, M.Ag. (PW Majelis Tarjih Muhammadiyah Jatim);
7. Prof. Dr. Thomas Djamaluddin (LAPAN);
8. Dr. Hakim L. Malasan (Kepala Observatorium Boscha);
9. Dr. Moedji Raharto (Astronomi ITB);
10. Prof. Dr. KH. M. Tolchah Hasan (Mantan Menteri Agama RI.);
11. Drs. KH. A. Musta’in Syafi’i, M.Ag. (Pesantren Tebuireng).

Selain berdiskusi para peserta juga diajak untuk langsung praktek menentukan arah kiblat, melihat terbitnya fajar, dan melihat benda-benda luar angkasa dengan peralatan yang sudah disediakakan panitia.

Kamis, 17 Mei 2012

Ingin Mengenal Islam, Rombongan Hongkong ke Tebuireng

Tebuireng, 29 Juli 2010. Rombongan sebanyak 25 orang dari Hongkong berkunjung ke Pesantren Tebuireng.  Tiba di Tebuireng pukul 14.20 WIB., dari Surabaya mereka langsung menuju ke GKJW (Gereja Kristen Jawi Wetan) dan Rumah Sakit Kristen di Mojowarno yang terletak 8 km. dari Pesantren Tebuireng dan kemudian melanjutkan perjalanan ke Tebuireng.

Disambut sejumlah pengurus dan dewan asatidz, bertempat di aula gedung baru, rombongan yang terdiri dari mahasiswa, guru, dan perawat beragama kristen ini berdiskusi tentang pendidikan di Tebuireng dan seputar keislaman.

Dua tahun yang lalu sejumlah pelajar dan mahasiswa dari Hongkong dengan tujuan yang sama, juga mengadakan kunjungan ke Tebuireng. Dipilihnya Tebuireng karena dianggap sebagai salah satu pesantren tertua di Indonesia dan pendirinya, KH. M. Hasyim Asy’ari adalah juga pendiri Nahdlatul Ulama’ (NU), organisasi terbesar di Indonesia. Sebenarnya setahun yang lalu mereka juga berencana ke Tebuireng, namun karena sesuatu hal kunjungan itu dibatalkan.

Usai berdialog, didampingi pengurus dan dewan asatidz mereka diajak berkeliling area pesantren; perpustakaan, asrama santri, makam masyayikh Tebuireng, puskestren dan pondok putri.

Senin, 14 Mei 2012

Wisata Religi Ramadhan (1431 H ) Citilink di Tebuireng

Adalah Paket Wisata Religi Khusus bulan Ramadhan yang ditujukan bagi customer yang ingin belajar dan merasakan bagaimana ramadhan di pesantren Tebuireng serta melihat aktivitas kegiatan santri selama Ramadhan. Selain itu peserta akan diajak mengunjungi makam Gusdur (Presiden RI yang keempat) dan KH Hasyim Asya'ri (1871-1947) Pendiri NU. Sebelum kembali ke tempat asal daerah para peserta akan diajak mengunjungi makan Sunan Ampel (wafat tahun 1481) serta melewati jembatan Suramadu yang indah.

Terms and Conditions:

* Harga sudah termasuk tiket penerbangan Citilink Garuda Indonesia Jakarta - Surabaya pp(peserta dari Jakarta) atau Banjarmasin-Surabaya pp (peserta dari Banjarmasin), Transport Airport Juanda - Pesantren Tebuireng - Makam Sunan Ampel - Jembatan Suramadu pp, akomodasi di pesantren Tebuireng, buka puasa dan sahur di pesantren Tebuireng.
* Harga tidak termasuk Airport Tax dan biaya lainnya yang tidak termasuk pada point 1.
* Paket Wisata ini hanya berlaku untuk program tanggal 14/15 Aug, 21/22 Aug, dan 26/27 Aug 2010 (Special Nuzulul Qur'an 17 Ramadhan 1431 H).
* Para peserta diharapkan bertemu dengan pimpinan pondok pesantren Tebuireng Bapak KH Solahudin Wahid (Gus Sholah).
* Program ini berlaku selama ramadhan 1431 H.
* Pembayaran dengan menggunakan kartu kredit yang berlaku, klikBCA atau melalui Call Center Citilink.
* Ketikan kode Promosi pada kotak Kode Promosi: TEBUIRENG, pastikan tanggal keberangkatan dan kepulangan anda sesuai dengan tanggal paket pada point 3.
* Informasi lebih lanjut dapat menghubungi Jakarta: Moch.Helmi (08137251726, email: helmi@citilink.co.id), Surabaya: Arief Wibisono (0818593661, email: wibi@citilink.co.id), Banjarmasin (0511-7498485, email: lenita@citilink.co.id) atau Call Center Citilink di 0804-1-080808.

HARI PERTAMA

05.30 : Tiba di bandara Soekarno Hatta, terminal 1C.
07.50 : Take off dari Jakarta.
09.10 : Tiba di Juanda, Surabaya.
12.00 : Tiba di Pondok Pesantren TebuIreng.
12.15 : Shalat Dzuhur dan penyambutan dari pimpinan pondok pesantren Tebuireng.
12.45 : Istirahat di tempat yang sudah disediakan.
15.00 : Menuju masjid untuk shalat Ashar.
15.30 : Ceramah Mengenai Tauhid "Hikmah dan Nilai Ritual Ramadhan"
17.00 : Persiapan buka puasa (acara bebas melihat-lihat kegiatan di sekitar pesantren)
17.45 : Menuju Masjid persiapan Buka Puasa.
18.00 : Buka Puasa bersama dengan santri pesantren Tebuireng.
18.15 : Shalat Maghrib Berjamaah.
18.45 : Makan Malam.
19.30 : Shalat isya dan Tarawih berjamaah bersama santri Tebuireng.
21.00 : Ceramah Pesan sosial Al-Quran : "Membangun kehidupan keluarga yang baik".
22.30 : Istirahat.

HARI KEDUA

03.00 : Sahur bersama dan Shalat Subuh berjamaah bersama santri Tebuireng.
05.00 : Ceramah Pesan Sosial Al-Quran : "Membangun kehidupan solidaritas sosial".
05.30 : Istirahat
07.00 : Kunjungan ke makam alm GUS DUR dan KH Hasyim Asy'ari
08.00 : Check out Menuju Makam Sunan Ampel
10.30 : Tiba di makam Sunan Ampel
11.00 : Menuju Jembatan Suramadu
11.30 : Tiba di jembatan suramadu
14.00 : Menuju Airport Juanda
15.30 : Check in Airport Juanda
17.05 : Depart to Jakarta/Banjarmasin (selesai)

Jumat, 11 Mei 2012

Peringatan 65 Tahun Resolusi Jihad

Pesantren Tebuireng Selasa, 26 Oktober kemarin memperingati 65 tahun fatwa Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari. Kegiatan itu sejenak mengingatkan perjuangan para ulama pada masa penjajahan tahun 1945. Saat itu, sebelum pecah perang 10 November l945 di Surabaya, KH Hasyim Asyari, pendiri NU dan sekaligus pendiri pesantren Tebuireng, menyerukan resolusi jihad kepada rakyat Jawa Timur agar masyarakat yang berdomisili dengan radius 90 kilometer dari Surabaya wajib melawan penjajah.

Dalam sambutannya Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang, KH Salahudin Wahid (Gus Solah) meminta para ulama untuk bergiat melawan kemiskinan. Hal itu sebagai implementasi dari peringatan 65 tahun resolusi jihad yang pernah digagas oleh ulama NU yang dipimpin Hadratus Syaikh Hasyim Asyari.

Gus Solah menceritakan, munculnya resolusi jihad yang digagas kakeknya tidak lepas dari kondisi bangsa yang kritis. Saat itu tentara sekutu kembali masuk ke Indonesia dengan membonceng tentara NICA. Ironisnya, pada saat bersamaan, kekuatan BKR (Badan Keamanan Rakyat, sekarang TNI) masih minim.

KH Hasyim Asyari bersama para ulama NU tergerak untuk mempertahankan NKRI. Selanjutnya mereka bermusyawarah dan lahirlah resolusi jihad yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945. Isi dari resolusi tersebut seluruh umat Islam yang sudah baligh wajib turun ke medan laga mengusir penjajah. Jika mereka meninggal dalam perang maka akan mati syahid.

Resolusi jihad itu berimbas cukup besar. Hal itu bisa dilihat dari semangat arek-arek Suroboyo dalam perang 10 November. Bahkan, lanjut Gus Solah, Bung Tomo salah satu tokoh dalam pertempuran 10 November juga terilhami fatwa resolusi dari para ulama itu.

Acara yang digelar di halaman belakang pondok Tebuireng tersebut dihadiri oleh sejumlah ulama, semisal KH Masduqi Abdurrahman, KH Saiful Halim yang juga ketua PCNU kota Surabaya. Sedangkan budayawan KH Mustofa Bisri dari Rembang, Jawa Tengah, yang sebelumna dijadwalkan hadir, berhalangan. Tampak juga dari keluarga Hj. Lily Wahid, adik kandung Gus Dur.

Selasa, 08 Mei 2012

Israel dan Kemokongan Mereka

An Naml 76

"Sesungguhnya Al Quraan ini menjelaskan kepada Bani lsrail sebahagian besar dari (perkara-perkara) yang mereka berselisih tentangnya".

Tulisan ini dimaksudkan sebagai pengingat sekaligus upaya membuka pemahaman kita mengenai latar belakang sejarah Israel serta sebab-sebab terjadinya konflik dan  kemokongan mereka.

2000 SM – 1500 SM
Istri Nabi Ibrahim A.s., Siti Hajar mempunyai anak Nabi Ismail A.s. (bapaknya bangsa Arab) dan Siti Sarah mempunyai anak Nabi Ishak A.s. yang kemudian mempunyai anak Nabi Ya’qub A.s. alias Israel (Israil, Qur’an). Anak keturunannya disebut Bani Israel sebanyak 7 (tujuh) orang. Salah satunya bernama Nabi Yusuf A.s. yang ketika kecil dibuang oleh saudara-saudaranya yang dengki kepadanya. Nasibnya yang baik membawanya ke tanah Mesir dan kemudian dia menjadi bendahara kerajaan Mesir. Ketika masa paceklik, Nabi Ya’qub A.s. beserta saudara-saudara Yusuf bermigrasi ke Mesir. Populasi anak keturunan Israel (Nabi Ya’qub A.s.) membesar.

1550 SM – 1200 SM
Politik di Mesir berubah. Bangsa Israel dianggap sebagai masalah bagi negara Mesir. Banyak dari bangsa Israel yang lebih pintar dari orang asli Mesir dan menguasai perekonomian. Oleh pemerintah Firaun bangsa Israel diturunkan statusnya menjadi budak.

1200 SM – 1100 SM
Nabi Musa A.s. memimpin bangsa Israel meninggalkan Mesir, mengembara di gurun Sinai menuju tanah yang dijanjikan, asalkan mereka taat kepada Allah Swt – dikenal dengan cerita Nabi Musa A.s. membelah laut ketika bersama dengan bangsa Israel dikejar-kejar oleh tentara Mesir menyeberangi Laut Merah. Namun saat mereka diperintah untuk memasuki tanah Filistin (Palestina), mereka membandel dan berkata: “Hai, Musa, kami sekali-kali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi ada orang yang gagah perkasa di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Rabbmu (Tuhanmu), dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.” (QS 5:24)
Akibatnya mereka dikutuk oleh Allah Swt dan hanya berputar-putar saja di sekitar Palestina. Belakangan agama yang dibawa Nabi Musa A.s. disebut Yahudi – menurut salah satu marga dari bangsa Israel yang paling banyak keturunannya, yakni Yehuda, dan akhirnya bangsa Israil – tanpa memandang warga negara atau tanah airnya – disebut juga orang-orang Yahudi.

1000 SM – 922 SM
Nabi Daud A.s. (anak Nabi Musa A.s.) mengalahkan Goliath (Jalut, Qur’an) dari Filistin. Palestina berhasil direbut dan Daud dijadikan raja. Wilayah kerajaannya membentang dari tepi sungai Nil hingga sungai Efrat di Iraq. Sekarang ini Yahudi tetap memimpikan kembali kebesaran Israel Raya seperti yang dipimpin raja Daud. Bendera Israel adalah dua garis biru (sungai Nil dan Eufrat) dan Bintang Daud. Kepemimpinan Daud A.s. diteruskan oleh anaknya Nabi Sulaiman A.s. dan Masjidil Aqsa pun dibangun.

922 SM – 800 SM
Sepeninggal Sulaiman A.s., Israel dilanda perang saudara yang berlarut-larut, hingga akhirnya kerajaan itu terbelah menjadi dua, yakni bagian Utara bernama Israel beribukota Samaria dan Selatan bernama Yehuda beribukota Yerusalem.

800 SM – 600 SM
Karena kerajaan Israel sudah terlalu durhaka kepada Allah Swt maka kerajaan tersebut dihancurkan oleh Allah Swt melalui penyerangan kerajaan Asyiria.
“Sesungguhnya Kami telah mengambil kembali perjanjian dari Bani Israil, dan telah Kami utus kepada mereka rasul-rasul. Tetapi setiap datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa apa yang tidak diingini hawa nafsu mereka, maka sebagian rasul-rasul itu mereka dustakan atau mereka bunuh.” (QS 5:70)
Hal ini juga bisa dibaca di Injil (Bible) pada Kitab Raja-raja ke-1 14:15 dan Kitab Raja-raja ke-2 17:18.

600 SM – 500 SM
Kerajaan Yehuda dihancurkan lewat tangan Nebukadnezar dari Babylonia. Dalam Injil Kitab Raja-raja ke-2 23:27 dinyatakan bahwa mereka tidak mempunyai hak lagi atas Yerusalem. Mereka diusir dari Yerusalem dan dipenjara di Babylonia.

500 SM – 400 SM
Cyrus Persia meruntuhkan Babylonia dan mengijinkan bangsa Israel kembali ke Yerusalem.

330 SM – 322 SM
Israel diduduki Alexander Agung dari Macedonia (Yunani). Ia melakukan hellenisasi terhadap bangsa-bangsa taklukannya. Bahasa Yunani menjadi bahasa resmi Israel, sehingga nantinya Injil pun ditulis dalam bahasa Yunani dan bukan dalam bahasa Ibrani.

300 SM – 190 SM
Yunani dikalahkan Romawi. Maka Palestina pun dikuasai imperium Romawi.

1 – 100 M
Nabi Isa A.s. / Yesus lahir, kemudian menjadi pemimpin gerakan melawan penguasa Romawi. Namun selain dianggap subversi oleh penguasa Romawi (dengan ancaman hukuman tertinggi yakni dihukum mati di kayu salib), ajaran Yesus sendiri ditolak oleh para Rabbi Yahudi. Namun setelah Isa tiada, bangsa Yahudi memberontak terhadap Romawi.

100 – 300
Pemberontakan berulang. Akibatnya Palestina dihancurkan dan dijadikan area bebas Yahudi. Mereka dideportasi keluar Palestina dan terdiaspora ke segala penjuru imperium Romawi. Namun demikian tetap ada sejumlah kecil pemeluk Yahudi yang tetap bertahan di Palestina. Dengan masuknya Islam kemudian, serta dipakainya bahasa Arab di dalam kehidupan sehari-hari, mereka lambat laun terarabisasi atau bahkan masuk Islam.

313
Pusat kerajaan Romawi dipindah ke Konstantinopel dan agama Kristen dijadikan agama negara.

500 – 600
Nabi Muhammad Saw lahir di tahun 571 M. Bangsa Yahudi merembes ke semenanjung Arabia (di antaranya di Khaibar dan sekitar Madinah), kemudian berimigrasi dalam jumlah besar ke daerah tersebut ketika terjadi perang antara Romawi dengan Persia.

621
Nabi Muhammad Saw melakukan perjalanan ruhani Isra’ dari masjidil Haram di Makkah ke masjidil Aqsa di Palestina dilanjutkan perjalana Mi’raj ke Sidrathul Muntaha (langit lapis ke-7). Rasulullah menetapkan Yerusalem sebagai kota suci ke-3 ummat Islam, dimana sholat di masjidil Aqsa dinilai 500 kali dibanding sholat di masjid lain selain masjidil Haram di Makkah dan masjid Nabawi di Madinah. Masjidil Aqsa juga menjadi kiblat umat Islam sebelum dipindah arahnya ke Ka’bah di masjidil Haram, Makkah.

622
Hijrah Nabi Muhammad Saw ke Madinah dan pendirian negara Islam – yang selanjutnya disebut khilafah. Nabi mengadakan perjanjian dengan bangsa Yahudi yang menjadi penduduk Madinah dan sekitarnya, yang dikenal dengan “Piagam Madinah”.

626
Pengkhianatan Yahudi dalam perang Ahzab (perang parit) dan berarti melanggar Perjanjian Madinah. Sesuai dengan aturan di dalam kitab Taurat mereka sendiri, mereka harus menerima hukuman dibunuh atau diusir.

638
Di bawah pemerintahan Khalifah Umar Ibnu Khattab ra. Seluruh Palestina dimerdekakan dari penjajah Romawi. Seterusnya seluruh penduduk Palestina, Muslim maupun Non Muslim, hidup aman di bawah pemerintahan khilafah. Kebebasan beragama dijamin sepenuhnya.

700 – 1000
Wilayah Islam meluas dari Asia Tengah, Afrika hingga Spanyol. Di dalamnya, bangsa Yahudi mendapat peluang ekonomi dan intelektual yang sama. Ada beberapa ilmuwan terkenal di dunia Islam yang sesungguhnya adalah orang Yahudi.

1076
Yerusalem dikepung oleh tentara salib dari Eropa. Karena pengkhianatan kaum munafik (sekte Drusiah yang mengaku Islam tetapi ajarannya sesat), pada tahun 1099 M tentara salib berhasil menguasai Yerusalem dan mengangkat seorang raja Kristen. Penjajahan ini berlangsung hingga 1187 M sampai Salahuddin Al-Ayyubi membebaskannya dan setelah itu ummat Islam yang terlena sufisme yang sesat bisa dibangkitkan kembali.

1453
Setelah melalui proses reunifikasi dan revitalisasi wilayah-wilayah khilafah yang tercerai berai setelah hancurnya Baghdad oleh tentara Mongol (1258 M), khilafah Utsmaniah dibawah Muhammad Fatih menaklukan Konstatinopel, dan mewujudkan nubuwwah Rasulullah.

1492
Andalusia sepenuhnya jatuh ke tangan Kristen Spanyol (reconquista). Karena cemas suatu saat umat Islam bisa bangkit lagi, maka terjadi pembunuhan, pengusiran dan pengkristenan massal. Hal ini tidak cuma diarahkan pada Muslim namun juga pada Yahudi. Mereka lari ke wilayah khilafah Utsmaniyah, diantaranya ke Bosnia. Pada 1992 Raja Juan Carlos dari Spanyol secara resmi meminta maaf kepada pemerintah Israel atas holocaust (pemusnahan etnis) 500 tahun sebelumnya. (Tapi tidak permintaan maaf kepada umat Islam).

1500 – 1700
Kebangkitan pemikiran di Eropa, munculnya sekularisme (pemisahan agama / gereja dengan negara), nasionalisme dan kapitalisme. Mulainya kemajuan teknologi moderen di Eropa. Abad penjelajahan samudera dimulai. Mereka mencari jalur perdagangan alternatif ke India dan Cina, tanpa melalui daerah-daerah Islam. Tapi akhirnya mereka didorong oleh semangat kolonialisme dan imperialisme, yakni Gold, Glory dan Gospel. Gold berarti mencari kekayaan di tanah jajahan, Glory artinya mencari kemasyuran di atas bangsa lain dan Gospel (Injil) artinya menyebarkan agama Kristen ke penjuru dunia.

1529
Tentara khilafah berusaha menghentikan arus kolonialisme/imperialisme serta membalas reconquista langsung ke jantung Eropa dengan mengepung Wina, namun gagal. Tahun 1683 M kepungan diulang, dan gagal lagi. Kegagalan ini terutama karena tentara Islam terlalu yakin pada jumlah dan perlengkapannya.
“… yaitu ketika kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dan bercerai-berai.” (QS 9:25).

1798
Napoleon berpendapat bahwa bangsa Yahudi bisa diperalat bagi tujuan-tujuan Perancis di Timur Tengah. Wilayah itu secara resmi masih di bawah Khilafah.

1831
Untuk mendukung strategi “devide et impera” Perancis mendukung gerakan nasionalisme Arab, yakni Muhammad Ali di Mesir dan Pasya Basyir di Libanon. Khilafah mulai lemah dirongrong oleh semangat nasionalisme yang menular begitu cepat di tanah Arab.

1835
Sekelompok Yahudi membeli tanah di Palestina, dan lalu mendirikan sekolah Yahudi pertama di sana. Sponsornya adalah milyuder Yahudi di Inggris, Sir Moshe Monteveury, anggota Free Masonry. Ini adalah pertama kalinya sekolah berkurikulum asing di wilayah Khilafah.

1838
Inggris membuka konsulat di Yerusalem yang merupakan perwakilan Eropa pertama di Palestina.

1849
Kampanye mendorong imigrasi orang Yahudi ke Palestina. Pada masa itu jumlah Yahudi di Palestina baru sekitar 12.000 orang. Pada tahun 1948 jumlahnya menjadi 716.700 dan pada tahun 1964 sudah hampir 3 juta orang.

1882
Imigrasi besar-besaran orang Yahudi ke Palestina yang berselubung agama, simpati dan kemanusiaan bagi penderitaan Yahudi di Eropa saat itu.

1891
Para penduduk Palestina mengirim petisi ke Khalifah, menuntut dilarangnya imigrasi besar-besaran ras Yahudi ke Palestina. Sayang saat itu khilafah sudah “sakit-sakitan” (dijuluki “the sick man at Bosporus). Dekadensi pemikiran meluas, walau Sultan Abdul Hamid sempat membuat terobosan dengan memodernisir infrastruktur, termasuk memasang jalur kereta api dari Damaskus ke Madinah via Palestina! Sayang, sebelum selesai, Sultan Abdul Hamid dipecat oleh Syaikhul Islam (Hakim Agung) yang telah dipegaruhi oleh Inggris. Perang Dunia I meletus, dan jalur kereta tersebut dihancurkan.

1897
Theodore Herzl menggelar kongres Zionis sedunia di Basel Swiss. Peserta Kongres I Zionis mengeluarkan resolusi, bahwa umat Yahudi tidaklah sekedar umat beragama, namun adalah bangsa dengan tekad bulat untuk hidup secara berbangsa dan bernegara. Dalam resolusi itu, kaum zionis menuntut tanah air bagi umat Yahudi – walaupun secara rahasia – pada “tanah yang bersejarah bagi mereka”. Sebelumnya Inggris hampir menjanjikan tanah protektorat Uganda atau di Amerika Latin ! Di kongres itu, Herzl menyebut, Zionisme adalah jawaban bagi “diskriminasi dan penindasan” atas umat Yahudi yang telah berlangsung ratusan tahun. Pergerakan ini mengenang kembali bahwa nasib umat Yahudi hanya bisa diselesaikan di tangan umat Yahudi sendiri. Di depan kongres, Herzl berkata, “Dalam 50 tahun akan ada negara Yahudi !” Apa yang direncanakan Herzl menjadi kenyataan pada tahun 1948.

1916
Perjanjian rahasia Sykes – Picot oleh sekutu (Inggris, Perancis, Rusia) dibuat saat meletusnya Perang Dunia (PD) I, untuk mencengkeram wilayah-wilayah Arab dan Khalifah Utsmaniyah dan membagi-bagi di antara mereka. PD I berakhir dengan kemenangan sekutu, Inggris mendapat kontrol atas Palestina. Di PD I ini, Yahudi Jerman berkomplot dengan Sekutu untuk tujuan mereka sendiri (memiliki pengaruh atau kekuasaan yang lebih besar).

1917
Menlu Inggris keturunan Yahudi, Arthur James Balfour, dalam deklarasi Balfour memberitahu pemimpin Zionis Inggris, Lord Rothschild, bahwa Inggris akan memperkokoh pemukiman Yahudi di Palestina dalam membantu pembentukan tanah air Yahudi. Lima tahun kemudian Liga Bangsa-bangsa (cikal bakal PBB) memberi mandat kepada Inggris untuk menguasai Palestina.

1938
Nazi Jerman menganggap bahwa pengkhianatan Yahudi Jerman adalah biang keladi kekalahan mereka pada PD I yang telah menghancurkan ekonomi Jerman. Maka mereka perlu “penyelesaian terakhir” (endivsung). Ratusan ribu keturunan Yahudi dikirim ke kamp konsentrasi atau lari ke luar negeri (terutama ke AS). Sebenarnya ada etnis lain serta kaum intelektual yang berbeda politik dengan Nazi yang bernasib sama, namun setelah PD II Yahudi lebih berhasil menjual ceritanya karena menguasai banyak surat kabar atau kantor-kantor berita di dunia.

1944
Partai buruh Inggris yang sedang berkuasa secara terbuka memaparkan politik “membiarkan orang-orang Yahudi terus masuk ke Palestina, jika mereka ingin jadi mayoritas. Masuknya mereka akan mendorong keluarnya pribumi Arab dari sana.” Kondisi Palestina pun memanas.

1947
PBB merekomendasikan pemecahan Palestina menjadi dua negara: Arab dan Israel.

1948, 14 Mei.
Sehari sebelum habisnya perwalian Inggris di Palestina, para pemukim Yahudi memproklamirkan kemerdekaan negara Israel. Mereka melakukan agresi bersenjata terhadap rakyat Palestina yang masih lemah, hingga jutaan dari mereka terpaksa mengungsi ke Libanon, Yordania, Syria, Mesir dan lain-lain. Palestina Refugees menjadi tema dunia. Namun mereka menolak eksistensi Palestina dan menganggap mereka telah memajukan areal yang semula kosong dan terbelakang. Timbullah perang antara Israel dan negara-negara Arab tetangganya. Namun karena para pemimpin Arab sebenarnya ada di bawah pengaruh Inggris – lihat Imperialisme Perancis dan Inggris di tanah Arab sejak tahun 1798 – maka Israel mudah merebut daerah Arab Palestina yang telah ditetapkan PBB.

1948, 2 Desember
Protes keras Liga Arab atas tindakan AS dan sekutunya berupa dorongan dan fasilitas yang mereka berikan bagi imigrasi zionis ke Palestina. Pada waktu itu, Ikhwanul Muslimin (IM) di bawah Hasan Al-Banna mengirim 10.000 mujahidin untuk berjihad melawan Israel. Usaha ini kandas bukan karena mereka dikalahkan Israel, namun karena Raja Farouk yang korup dari Mesir takut bahwa di dalam negeri IM bisa melakukan kudeta, akibatnya tokoh-tokoh IM dipenjara atau dihukum mati.

1956, 29 Oktober
Israel dibantu Inggris dan Perancis menyerang Sinai untuk menguasai terusan Suez. Pada kurun waktu ini, militer di Yordania menawarkan baiat ke Hizbut Tahrir (salah satu harakah Islam) untuk mendirikan kembali Khilafah. Namun Hizbut Tahrir menolak, karena melihat rakyat belum siap.

1964
Para pemimpin Arab membentuk PLO (Palestine Liberation Organization). Dengan ini secara resmi, nasib Palestina diserahkan ke pundak bangsa Arab-Palestina sendiri, dan tidak lagi urusan umat Islam. Masalah Palestina direduksi menjadi persoalan nasional bangsa Palestina.

1967
Israel menyerang Mesir, Yordania dan Syria selama 6 hari dengan dalih pencegahan, Israel berhasil merebut Sinai dan Jalur Gaza (Mesir), dataran tinggi Golan (Syria), Tepi Barat dan Yerussalem (Yordania). Israel dengan mudah menghancurkan angkatan udara musuhnya karena dibantu informasi dari CIA (Central Intelligence Agency = Badan Intelijen Pusat milik USA). Sementara itu angkatan udara Mesir ragu membalas serangan Israel, karena Menteri Pertahanan Mesir ikut terbang dan memerintahkan untuk tidak melakukan tembakan selama dia ada di udara.

1967, Nopember
Dewan Keamanan PBB mengeluarkan Resolusi Nomor 242, untuk perintah penarikan mundur Israel dari wilayah yang direbutnya dalam perang 6 hari, pengakuan semua negara di kawasan itu, dan penyelesaian secara adil masalah pengungsi Palestina.

1969
Yasser Arafat dari faksi Al-Fatah terpilih sebagai ketua Komite Eksekutif PLO dengan markas di Yordania.

1970
Berbagai pembajakan pesawat sebagai publikasi perjuangan rakyat Palestina membuat PLO dikecam oleh opini dunia, dan Yordania pun dikucilkan. Karena ekonomi Yordania sangat tergantung dari AS, maka akhirnya Raja Husein mengusir markas PLO dari Yordania. Dan akhirnya PLO pindah ke Libanon.

1973, 6 Oktober
Mesir dan Syria menyerang pasukan Israel di Sinai dan dataran tinggi Golan pada hari puasanya Yahudi Yom Kippur. Pertempuran ini dikenal dengan Perang Oktober. Mesir dan Syria hampir menang, kalau Israel tidak tiba-tiba dibantu oleh AS. Presiden Mesir Anwar Sadat terpaksa berkompromi, karena dia cuma siap untuk melawan Israel, namun tidak siap berhadapan dengan AS. Arab membalas kekalahan itu dengan menutup keran minyak. Akibatnya harga minyak melonjak pesat.

1973, 22 Oktober
Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi Nomor 338, untuk gencatan senjata, pelaksanaan resolusi Nomor 242 dan perundingan damai di Timur Tengah.

1977
Pertimbangan ekonomi (perang telah memboroskan kas negara) membuat Anwar Sadat pergi ke Israel tanpa konsultasi dengan Liga Arab. Ia menawarkan perdamaian, jika Israel mengembalikan seluruh Sinai. Negara-negara Arab merasa dikhianati. Karena langkah politiknya ini, belakangan Anwar Sadat dibunuh pada tahun 1982.

1978, September
Mesir dan Israel menandatangani perjanjian Camp David yang diprakarsai AS. Perjanjian itu menjanjikan otonomi terbatas kepada rakyat Palestina di wilayah-wilayah pendudukan Israel. Sadat dan PM Israel Menachem Begin dianugerahi Nobel Perdamaian 1979. namun Israel tetap menolak perundingan dengan PLO dan PLO menolak otonomi. Belakangan, otonomi versi Camp David ini tidak pernah diwujudkan, demikian juga otonomi versi lainnya. Dan AS sebagai pemrakarsanya juga tidak merasa wajib memberi sanksi, bahkan selalu memveto resolusi PBB yang tidak menguntungkan pihak Israel.

1980
Israel secara sepihak menyatakan bahwa mulai musim panas 1980 kota Yerussalem yang didudukinya itu resmi sebagai ibukota.

1982
Israel menyerang Libanon dan membantai ratusan pengungsi Palestina di Sabra dan Shatila. Pelanggaran terhadap batas-batas internasional ini tidak berhasil dibawa ke forum PBB karena – lagi-lagi – veto dari AS. Belakangan Israel juga dengan enaknya melakukan serangkaian pemboman atas instalasi militer dan sipil di Iraq, Libya dan Tunis.

1987
Intifadhah, perlawanan dengan batu oleh orang-orang Palestina yang tinggal di daerah pendudukan terhadap tentara Israel mulai meledak. Intifadhah ini diprakarsai oleh HAMAS, suatu harakah Islam yang memulai aktivitasnya dengan pendidikan dan sosial.

1988, 15 Nopember
Diumumkan berdirinya negara Palestina di Aljiria, ibu kota Aljazair. Dengan bentuk negara Republik Parlementer. Ditetapkan bahwa Yerussalem Timur sebagai ibukota negara dengan Presiden pertamanya adalah Yasser Arafat.
Setelah Yasser Arafat mangkat kursi presiden diduduki oleh Mahmud Abbas. Dewan Nasional Palestina, yang identik dengan Parlemen Palestina beranggotakan 500 orang.

1988, Desember
AS membenarkan pembukaan dialog dengan PLO setelah Arafat secara tidak langsung mengakui eksistensi Israel dengan menuntut realisasi resolusi PBB Nomor 242 pada waktu memproklamirkan Republik Palestina di pengasingan di Tunis.

1991, Maret
Yasser Arafat menikahi Suha, seorang wanita Kristen. Sebelumnya Arafat selalu mengatakan “menikah dengan revolusi Palestina”.

1993, September
PLO – Israel saling mengakui eksistensi masing-masing dan Israel berjanji memberikan hak otonomi kepada PLO di daerah pendudukan. Motto Israel adalah “land for peace” (tanah untuk perdamaian). Pengakuan itu dikecam keras oleh pihak ultra-kanan Israel maupun kelompok di Palestina yang tidak setuju. Namun negara-negara Arab (Saudi Arabia, Mesir, Emirat dan Yordania) menyambut baik perjanjian itu. Mufti Mesir dan Saudi mengeluarkan “fatwa” untuk mendukung perdamaian.
Setelah kekuasaan di daerah pendudukan dialihkan ke PLO, maka sesuai perjanjian dengan Israel, PLO harus mengatasi segala aksi-aksi anti Israel. Dengan ini maka sebenarnya PLO dijadikan perpanjangan tangan Yahudi.
Yasser Arafat, Yitzak Rabin dan Shimon Peres mendapat Nobel Perdamaian atas usahanya tersebut.

1995
Rabin dibunuh oleh Yigar Amir, seorang Yahudi fanatik. Sebelumnya, di Hebron, seorang Yahudi fanatik membantai puluhan Muslim yang sedang shalat subuh. Hampir tiap orang dewasa di Israel, laki-laki maupun wanita, pernah mendapat latihan dan melakukan wajib militer. Gerakan Palestina yang menuntut kemerdekaan total menteror ke tengah masyarakat Israel dengan bom “bunuh diri”. Targetnya, menggagalkan usaha perdamaian yang tidak adil itu. Sebenarnya “land for peace” diartikan Israel sebagai “Israel dapat tanah, dan Arab Palestina tidak diganggu (bisa hidup damai).”

1996
Pemilu di Israel dimenangkan secara tipis oleh Netanyahu dari partai kanan, yang berarti kemenangan Yahudi yang anti perdamaian. Netanyahu mengulur-ulur waktu pelaksanaan perjanjian perdamaian. Ia menolak adanya negara Palestina, agar Palestina tetap sekedar daerah otonom di dalam Israel. Ia bahkan ingin menunggu/menciptakan kontelasi baru (pemukiman Yahudi di daerah pendudukan, bila perlu perluasan hingga ke Syria dan Yordania) untuk sama sekali membuat perjanjian baru.
AS tidak senang bahwa Israel jalan sendiri di luar garis yang ditetapkannya. Namun karena lobby Yahudi di AS terlalu kuat, maka Bill Clinton harus memakai agen-agennya di negara-negara Arab untuk “mengingatkan” si “anak emasnya” ini. Maka sikap negara-negara Arab tiba-tiba kembali memusuhi Israel. Mufti Mesir malah kini memfatwakan jihad terhadap Israel. Sementara itu Uni Eropa (terutama Inggris dan Perancis) juga mencoba “aktif” menjadi penengah, yang sebenarnya juga hanya untuk kepentingan masing-masing dalam rangka menanamkan pengaruhnya di wilayah itu. Mereka juga tidak rela kalau AS “jalan sendiri” tanpa bicara dengan Eropa.

2002 – Sampai sekarang
Sebuah usul perdamaian saat ini adalah Peta menuju perdamaian yang diajukan oleh Empat Serangkai Uni Eropa, Rusia, PBB dan Amerika Serikat pada 17 September 2002. Israel juga telah menerima peta itu namun dengan 14 “reservasi”. Pada saat ini Israel sedang menerapkan sebuah rencana pemisahan diri yang kontroversial yang diajukan oleh Perdana Menteri Ariel Sharon. Menurut rencana yang diajukan kepada AS, Israel menyatakan bahwa ia akan menyingkirkan seluruh “kehadiran sipil dan militer yang permanen” di Jalur Gaza (yaitu 21 pemukiman Yahudi di sana, dan 4 pemumikan di Tepi Barat), namun akan “mengawasi dan mengawal kantong-kantong eksternal di darat, akan mempertahankan kontrol eksklusif di wilayah udara Gaza, dan akan terus melakukan kegiatan militer di wilayah laut dari Jalur Gaza.” Pemerintah Israel berpendapat bahwa “akibatnya, tidak akan ada dasar untuk mengklaim bahwa Jalur Gaza adalah wilayah pendudukan,” sementara yang lainnya berpendapat bahwa, apabila pemisahan diri itu terjadi, akibat satu-satunya ialah bahwa Israel “akan diizinkan untuk menyelesaikan tembok – artinya, Penghalang Tepi Barat Israel – dan mempertahankan situasi di Tepi Barat seperti adanya sekarang ini”

Di hari kemenangan Partai Kadima pada pemilu tanggal 28 Maret 2006 di Israel, Ehud Olmert – yang kemudian diangkat sebagai Perdana Menteri Israel menggantikan Ariel Sharon yang berhalangan tetap karena sakit – berpidato. Dalam pidato kemenangan partainya, Olmert berjanji untuk menjadikan Israel negara yang adil, kuat, damai, dan makmur, menghargai hak-hak kaum minoritas, mementingkan pendidikan, kebudayaan dan ilmu pengetahuan serta terutama sekali berjuang untuk mencapai perdamaian yang kekal dan pasti dengan bangsa Palestina. Olmert menyatakan bahwa sebagaimana Israel bersedia berkompromi untuk perdamaian, ia mengharapkan bangsa Palestina pun harus fleksibel dengan posisi mereka. Ia menyatakan bahwa bila Otoritas Palestina, yang kini dipimpin Hamas, menolak mengakui Negara Israel, maka Israel “akan menentukan nasibnya di tangannya sendiri” dan secara langsung menyiratkan aksi sepihak. Masa depan pemerintahan koalisi ini sebagian besar tergantung pada niat baik partai-partai lain untuk bekerja sama dengan perdana menteri yang baru terpilih.

Sementara itu sebelum terjadinya serangan habis-habisan Israel ke Gaza (27/12/2008), sudah terjadi serangan-serangan kecil di antara kedua belah pihak di sekitar Jalur Gaza, disebabkan Israel menutup tempat-tempat penyeberangan atau jalur komersial ke Gaza sehingga pasokan bahan bakar minyak terhenti, yang memaksa satu-satunya pusat pembangkit listrik di Jalur Gaza tutup.

Sebagai catatan akhir, Perdana Menteri Israel setelah Benjamin Netanyahu berturut-turut adalah Ehud Barak, Ariel Sharon, dan yang masih berkuasa di Israel dalam penyerangan di Gaza sekarang adalah Ehud Olmert. Sedangkan 4 faksi utama di Palestina adalah PLO, Al-Fatah, Jihad Islam Palestina (JIP), dan yang berkuasa sekarang di Palestina adalah Hamas dengan Perdana Menterinya Ismail Haniya.

Sabtu, 05 Mei 2012

Tumbuhkan Semangat Menulis dan Bersastra*

Oleh Fathurrahman Karyadi

Jika ditanya tentang dunia tulis-menulis, mahasiswa Yogjakarta pastilah berperan. Hampir setiap hari, koran nasional memuat tulisan mereka.

Tak puas dengan itu, mereka mendirikan komunitas untuk menampung gagasannya. Dari ide itu,  terbitlah buku-buku, koran, buletin, kaos, stiker serta desain “banner” unik yang menghiasi kota Gudeg.

Salah satu komunitas itu adalah Matapena. Komunitas ini didirikan menjelang tahun 2006 oleh sekumpulan mahasiswa dari berbagai bidang dan perguruan di Yogja. Mereka adalah pecinta sastra. Mayoritas adalah alumni pondok pesantren. Oleh karena itu tema yang dikaji adalah sastra remaja pesantren.

Komunitas Matapena sudah menerbitkan 30 buku terdiri dari novel, antologi cerpen dan himpunan puisi. Semuanya ditulis mahasiswa dan santri. Komunitas ini juga mengadakan roadshow tentang kepenulisan dan sastra tak kurang dari 150 lembaga pendidikan di Indonesia.

Kini Rumah Kreatif Matapena beralamat di Jl. Lingkar Selatan Wojo 182 Rt.06 Gg. Nakulo, Bangunharjo, Sewon, Bantul, DI Yogyakarta. Anda juga bisa mengaksesnya di situs http://matapenajogja.blogspot.com.

Pesantren dan Sastra

Dalam kacamata pendidikan, tidak ada perbedaan mendasar antara kampus dan pesantren. Kampus adalah tempat pengajaran ilmu bagi peserta didik lulusan SMA. Begitu pula Pesantren, lembaga pendidikan yang menaungi peserta didik dari berbagai jenjang pendidikan.

Sistem pengajaran pun tak jauh berbeda. Di samping guru menerangkan, peserta didik juga dituntut bisa presentasi. Istilah di pesantren adalah  sistem bandhongan dan sorogan.

Jika di kampus ada ujian tengah dan akhir semester, di pesantren ada istilah Imtihan. Keduanya tak punya perbedaan jauh terkait kurikulum, sistem dan budaya. Perbedaan hanya pada penggunaan istilah. Misalnya, di kampus guru disebut dosen, sedangkan di pesantren bergelar kiai atau ustadz. Peserta didik di kampus itu mahasiswa, di pesantren disapa santri.

Sebenarnya di kampus dan pesantren, sentuhan sastra sudah menjadi budaya. Sayangnya, tak ditumbuhkembangkan. Seorang mahasiswa atau santri yang jatuh cinta kepada lawan jenisnya suka  menuangkan perasaannya dengan menulis puisi. Itu adalah sastra.

Atau, kisah yang ia alami dalam satu hari didokumentasikan ke dalam buku harian menjadi cerita. Itu adalah embrio novel. Ibaratnya, seperti yang diungkapkan Lan Fang, novelis dan pembina KOPI SARENG (Komunitas Pecinta Sastra Tebuireng), “Karya mereka laksana mutiara yang tinggal dipoles agar lebih berkilau.” (Kompas, 21/6/2011)

Berkreasi di Kaliopak

Komunitas Matapena memiliki agenda tahunan, Liburan Sastra di Pesantren (LSdP). Tahun ini (LSdP #6) dilaksanakan pada 24-26 Juni 2011 di Pesantren Kaliopak, Piyungan, Yogyakarta yang dipimpin Jadul Maula. Diikuti oleh sekitar 60 peserta dari berbagai universitas dan pesantren di  Yogja, Wonosobo, Pati, Jepara, Kudus, Tasikmalaya, Indramayu, Jombang dan Madura. Kami bertujuh dari Tebuireng Jombang.

Awalnya kami hendak mengisi libur semesteran di rumah. Akan tetapi, karena acara ini terasa penting dan mengasyikkan, kami bertolak ke Jogja. Selain itu, pihak pesantren juga mendesak kami ikut. Kami yang masuk dalam komunitas KOPI SARENG menjadi rujukan teman-teman.

Hanya dengan membayar Rp. 100.000,- panitia telah menyediakan asrama penginapan plus makan tiga kali sehari. Kami berlibur sastra, belajar sambil bermain. Para novelis, cerpenis dan sastrawan muda ikut membimbing kami. Diantaranya; Isma Kaze, Akhiryati Sundari, Saefuddin Amsa, Moh. Mahrus, Ma’rifatun Baroroh, Mahbub, Damhuri, Zakki Zarung, Pijer, Fina, Peppy, M. Daroini dan masih banyak lagi. Hadir pula sastrawan Slamet Gundhono dengan orasi budaya.

Panitia sebenarnya mengundang sastrawan yang lahir dari pesantren, tetapi banyak yang berhalangan hadir. Seperti diungkapkan Isma Kaze “Kami sudah berniat mengajak M. Faizi (penyair asal Madura), namun beliau ada undangan ke Jerman untuk membacakan puisinya ” katanya. Sastrawan pesantren pun bisa  bersaing di dunia sastra Internasional.

Kegiatan dalam LSdP#6 itu dimulai sejak subuh (seusai shalat), olahraga bersama lalu sarapan. Setelah itu ada materi tentang sastra dan komunitas seperti; perkenalan 12 nilai pengembangan kunci pribadi dan sosial, motivasi menulis, menggali ide, membuat setting cerita, penokohan dan alur. Agar suasana lebih cair ada  acara menarik pemutaran film MataPena rayon Tasikmalaya, out bond penanaman nilai sambil berkarya, tugas membuat cerpen sekali duduk, tahlilan sastra, seni panggung dan teater.

Kami mendapat banyak manfaat dari liburan itu. Di samping mendapat banyak ilmu, bisa kenal banyak teman antarkampus dan pesantren. Rencana ke depan, kami—tim tujuh—akan membuat buletin atau majalah dinding yang terbit setiap bulan sekali. Selama ini banyak komunitas sastra di pesantren. Sayang mereka hanya mengadakan diskusi, perlombaan, atau bedah buku tanpa menerbitkan sesuatu.

Nah, oleh-oleh dari acara LSdP#6 ini salah satunya adalah membuat karya. Kita harus pede sekalipun hasilnya mungkin kurang maksimal. Belajar menghasilkan, bukan hanya sekedar ocehan…

Bagi yang belum memiliki kesempatan mengikuti acara tersebut, tahun depan Matapena akan mengadakan LSdP #7.

*Dimuat di Kompas, 9/8/11

**Mahasiswa Ma’had Aly Tebuireng Jombang

Rabu, 02 Mei 2012

MBAH DULLAH

Oleh : KH. Mustofa Bisri

Berkenaan dengan haul Simbah KH. Abdullah Salam Kajen, rahimahuLlah, aku turunkan kembali tulisanku saat itu. Saat kudengar kepulangan orang hebat ini ke hadirat Ilahi 25 Sya'ban 1422. Mudah-mudahan ada manfaatnya.

Di Surabaya, dalam perjalanan pulang dari Jember, saya mendapat telpon dari anak saya bahwa Mbah Dullah, KH. Abdullah Salam Kajen, telah pulang ke rahamtuLlah. Innaa liLlahi wainnaa ilaiHi raaji’uun! Dikabarkan juga, berdasarkan wasiat almarhum walmaghfurlah, jenazah beliau akan langsung dikebumikan sore hari itu juga.

SubhanaLlah! Selalu saja setiap kali ada tokoh langka yang dicintai banyak orang meninggal, saya merasa seperti anak-anak yang terpukul, lalu hati kecil bicara yang tidak-tidak. Seperti kemarin itu ketika mendengar Mbah Dullah wafat, secara spontan hati kecil saya ‘gerundel’: “Mengapa bukan koruptor dan tokoh-tokoh jahat yang sibuk pamer gagah tanpa mempedulikan kepentingan orang banyak itu yang dicabut nyawanya? Mengapa justru orang baik yang dicintai masyarakat seperti mbah Dullah yang dipanggil?” Astaghfirullah!

Sepanjang perjalanan itu pun saya terus diam dengan pikiran mengembara. Kenangan demi kenangan tentang pribadi mulia mbah Dullah, kembali melela bagai gambar hidup.

Berperawakan gagah. Hidung mancung. Mata menyorot tajam. Kumis dan jenggotnya yang putih perak, menambah wibawanya. Hampir selalu tampil dengan pakaian putih-putih bersih, menyempurnakan kebersihan raut mukanya yang sedap dipandang.

Melihat penampilan dan rumahnya yang tidak lebih baik dari gotakan tempat tinggal santri-santrinya, mungkin orang akan menganggapnya miskin; atau minimal tidak kaya. Tapi tengoklah; setiap minggu sekali pengajiannya diikuti oleh ribuan orang dari berbagai penjuru dan … semuanya disuguh makan.

Selain pengajian-pengajian itu, setiap hari beliau menerima tamu dari berbagai kalangan yang rata-rata membawa masalah untuk dimintakan pemecahannya. Mulai dari persoalan keluarga, ekonomi, hingga yang berkaitan dengan politik. Bahkan pedagang akik dan minyak pun beliau terima dan beliau ‘beri berkah’ dengan membeli dagangan mereka.

Ketika beliau masih menjadi pengurus (Syuriah) NU, aktifnya melebihi yang muda-muda. Seingat saya, beliau tidak pernah absen menghadiri musyawarah semacam Bahtsul masaail, pembahasan masalah-masalah yang berkaitan dengan agama, yang diselenggarakan wilayah maupun cabang. Pada saat pembukaan muktamar ke 28 di Situbondo, panitia meminta beliau –atas usul kiai Syahid Kemadu—untuk membuka Muktamar dengan memimpin membaca Fatihah 41 kali. Dan beliau jalan kaki dari tempat parkir yang begitu jauh ke tempat sidang, semata-mata agar tidak menyusahkan panitia.

Semasa kondisi tubuh beliau masih kuat, beliau juga melayani undangan dari berbagai daerah untuk memimpin khataman Quran, menikahkan orang, memimpin doa, dsb.
Ketika kondisi beliau sudah tidak begitu kuat, orang-orang pun menyelenggarakan acaranya di rumah beliau. Saya pernah kebetulan sowan, agak kaget di rumah beliau ternyata banyak sekali orang. Belakangan saya ketahui bahwa Mbah Dullah sedang punya gawe. Menikahkan tiga pasang calon pengantin dari berbagai daerah.

Mbah Dullah, begitu orang memanggil kiai sepuh haamilul Qur’an ini, meskipun sangat disegani dan dihormati termasuk oleh kalangan ulama sendiri, beliau termasuk kiai yang menyukai musyawarah. Beliau bersedia mendengarkan bahkan tak segan-segan meminta pendapat orang, termasuk dari kalangan yang lebih muda. Beliau rela meminjamkan telinganya hingga untuk sekedar menampung pembicaraan-pembicaraan sepele orang awam. Ini adalah bagian dari sifat tawaduk dan kedermawanan beliau yang sudah diketahui banyak orang.

Tawaduk atau rendah hati dan kedermawanan adalah sikap yang hanya bisa dijalani oleh mereka yang kuat lahir batin, seperti Mbah Dullah. Mereka yang mempunyai (sedikit) kelebihan, jarang yang mampu melakukannya. Mempunyai sedikit kelebihan, apakah itu berupa kekuatan, kekuasaan, kekayaan, atau ilmu pengetahuan, biasanya membuat orang cenderung arogan atau minimal tak mau direndahkan.

Rendah hati berbeda dengan rendah diri. Berbeda dengan rendah hati yang muncul dari pribadi yang kuat, rendah diri muncul dari kelemahan. Mbah Dullah adalah pribadi yang kuat dan gagah luar dalam. Kekuatan beliau ditopang oleh kekayaan lahir dan terutama batin. Itu sebabnya, disamping dermawan dan suka memberi, Mbah Dullah termasuk salah satu –kalau tidak malah satu-satunya – kiai yang tidak mudah menerima bantuan atau pemberian orang, apalagi sampai meminta. Pantangan. Seolah-olah beliau memang tidak membutuhkan apa-apa dari orang lain. Bukankah ini yang namanya kaya?

Ya, mbah Dullah adalah tokoh yang mulai langka di zaman ini. Tokoh yang hidupnya seolah-olah diwakafkan untuk masyarakat. Bukan saja karena beliau punya pesantren dan madrasah yang sangat berkualitas; lebih dari itu sepanjang hidupnya, mbah Dullah tidak berhenti melayani umat secara langsung maupun melalui organisasi (Nahdlatul Ulama).

Mungkin banyak orang yang melayani umat, melalui organanisi atau langsung; tetapi yang dalam hal itu, tidak mengharap dan tidak mendapat imbalan sebagaimana mbah Dullah, saya rasa sangat langka saat ini. Melayani bagi mbah Dullah adalah bagian dari memberi. Dan memberi seolah merupakan kewajiban bagi beliau, sebagaimana meminta –bahkan sekedar menerima imbalan jasa-- merupakan salah satu pantangan utama beliau.

Beliau tidak hanya memberikan waktunya untuk santri-santrinya, tapi juga untuk orang-orang awam. Beliau mempunyai pengajian umum rutin untuk kaum pria dan untuk kaum perempuan yang beliau sebut dengan tawadluk sebagai ‘belajar bersana’. Mereka yang mengaji tidak hanya beliau beri ilmu dan hikmah, tapi juga makan setelah mengaji.

Pernah ada seorang kaya yang ikut mengaji, berbisik-bisik: “Orang sekian banyaknya yang mengaji kok dikasi makan semua, kan kasihan kiai.” Dan orang ini pun sehabis mengaji menyalami mbah Dullah dengan salam tempel, bersalaman dengan menyelipkan uang. Spontan mbah Dullah minta untuk diumumkan, agar jamaah yang mengaji tidak usah bersalaman dengan beliau sehabis mengaji. “Cukup bersalaman dalam hati saja!” kata beliau. Konon orang kaya itu kemudian diajak beliau ke rumahnya yang sederhana dan diperlihatkan tumpukan karung beras yang nyaris menyentuh atap rumah, “Lihatlah, saya ini kaya!” kata beliau kepada tamunya itu.
Memang hanya hamba yang fakir ilaLlah-lah, seperti mbah Dullah, yang sebenar-benar kaya.

Kisah lain; pernah suatu hari datang menghadap beliau, seseorang dari luar daerah dengan membawa segepok uang ratusan ribu. Uang itu disodorkan kepada mbah Dullah sambil berkata: “Terimalah ini, mbah, sedekah kami ala kadarnya.”
“Di tempat Sampeyan apa sudah tak ada lagi orang faqir?” tanya mbah Dullah tanpa sedikit pun melihat tumpukan uang yang disodorkan tamunya, “kok Sampeyan repot-repot membawa sedekah kemari?”
“Orang-orang faqir di tempat saya sudah kebagian semua, mbah; semua sudah saya beri.”
“Apa Sampeyan menganggap saya ini orang faqir?” tanya mbah Dullah.
“Ya enggak, mbah …” jawab si tamu terbata-bata. Belum lagi selesai bicaranya, mbah Dullah sudah menukas dengan suara penuh wibawa: “Kalau begitu, Sampeyan bawa kembali uang Sampeyan. Berikan kepada orang faqir yang memerlukannya!”

Kisah yang beredar tentang ‘sikap kaya’ mbah Dullah semacam itu sangat banyak dan masyhur di kalangan masyarakat daerahnya.

Mbah Dullah ‘memiliki’, di samping pesantren, madrasah yang didirikan bersama rekan-rekannya para kiai setempat. Madrasah ini sangat terkenal dan berpengaruh; termasuk –kalau tidak satu-satunya— madrasah yang benar-benar mandiri dengan pengertian yang sesungguhnya dalam segala hal.
32 tahun pemerintah orde baru tak mampu menyentuhkan bantuan apa pun ke madrasah ini. Orientasi keilmuan madrasah ini pun tak tergoyahkan hingga kini. Mereka yang akan sekolah dengan niat mencari ijazah atau kepentingan-kepentingan di luar ‘menghilangkan kebodohan’, jangan coba-coba memasuki madrasah ini.

Ini bukan berarti madrasahnya itu tidak menerima pembaruan dan melawan perkembangan zaman. Sama sekali. Seperti umumnya ulama pesantren, beliau berpegang kepada ‘Al-Muhaafadhatu ‘alal qadiemis shaalih wal akhdzu bil jadiedil ashlah’, Memelihara yang lama yang relevan dan mengambil yang baru yang lebih relevan. Hal ini bisa dilihat dari kurikulum, sylabus, dan matapelajaran-matapelajaran yang diajarkan yang disesuaikan dengan kebutuhan zaman.
Singkat kata, sebagai madrasah tempat belajar, madrasah mbah Dullah mungkin sama saja dengan yang lain. Yang membedakan ialah karakternya.

Agaknya mbah Dullah –rahimahuLlah — melalui teladan dan sentuhannya kepada pesantren dan madrasahnya, ingin mencetak manusia-manusia yang kuat ‘dari dalam’; yang gagah ‘dari dalam’; yang kaya ‘dari dalam’; sebagaimana beliau sendiri. Manusia yang berani berdiri sendiri sebagai khalifah dan hanya tunduk menyerah sebagai hamba kepada Allah SWT.

Bila benar; inilah perjuang yang luar biasa berat. Betapa tidak? Kecenderungan manusia di akhir zaman ini justru kebalikan dari yang mungkin menjadi obsesi mbah Dullah. Manusia masa kini justru seperti cenderung ingin menjadi orang kuat ‘dari luar’; gagah ‘dari luar’; kaya ‘dari luar’, meski terus miskin di dalam.

Orang menganggap dirinya kuat bila memiliki sarana-sarana dan orang-orang di luar dirinya yang memperkuat; meski bila dilucuti dari semua itu menjadi lebih lemah dari makhluk yang paling lemah. Orang menganggap dirinya gagah bila mengenakan baju gagah; meski bila ditelanjangi tak lebih dari kucing kurap. Orang menganggap dirinya kaya karena merasa memiliki harta berlimpah; meski setiap saat terus merasa kekurangan.

Waba’du; sayang sekali jarang orang yang dapat menangkap kelebihan mbah Dullah yang langka itu. Bahkan yang banyak justru mereka yang menganggap dan memujanya sebagai wali yang memiliki keistimewaan khariqul ‘aadah. Dapat melihat hal-hal yang ghaib; dapat bicara dengan orang-orang yang sudah meninggal; dapat menyembuhkan segala penyakit; dsb. dst. Lalu karenanya, memperlakukan orang mulia itu sekedar semacam dukun saja. Masya Allah!

Ke-’wali’-an Mbah Dullah –waLlahu a’lam-- justru karena sepanjang hidupnya, beliau berusaha --dan membuktikan sejauh mungkin-- melaksanakan ajaran dan keteladanan pemimpin agungnya, Muhammad SAW, terutama dalam sikap, perilaku, dan kegiatan-kegiatan beliau; baik yang berhubungan dengan Allah maupun dengan sesama hambaNya.

Begitulah; Mbah Dullah yang selalu memberikan keteduhan itu telah meninggalkan kita di dunia yang semakin panas ini. Beliau sengaja berwasiat untuk segera dimakamkan apabila meninggal. Agaknya beliau, seperti saat hidup, tidak ingin menyusahkan atau merepotkan orang. Atau, siapa tahu, kerinduannya sudah tak tertahankan untuk menghadap Khaliqnya.

Dan Ahad, 25 Sya’ban 1422 / 11 November 2001 sore, ketika Mbah Dullah dipanggil ke rahmatuLlah, wasiat beliau pun dilaksanakan. Beliau dikebumikan sore itu juga di dekat surau sederhananya di Polgarut Kajen Pati.

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida dan diridai, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-sejatiKu, dan masuklah ke dalam sorgaKu!”

Selamat jalan, Mbah Dullah! AnnasakumuLlah ilaa yaumi yub’atsuun!
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Jadwal Sholat Indonesia