Custom Search

Sabtu, 05 Mei 2012

Tumbuhkan Semangat Menulis dan Bersastra*

Oleh Fathurrahman Karyadi

Jika ditanya tentang dunia tulis-menulis, mahasiswa Yogjakarta pastilah berperan. Hampir setiap hari, koran nasional memuat tulisan mereka.

Tak puas dengan itu, mereka mendirikan komunitas untuk menampung gagasannya. Dari ide itu,  terbitlah buku-buku, koran, buletin, kaos, stiker serta desain “banner” unik yang menghiasi kota Gudeg.

Salah satu komunitas itu adalah Matapena. Komunitas ini didirikan menjelang tahun 2006 oleh sekumpulan mahasiswa dari berbagai bidang dan perguruan di Yogja. Mereka adalah pecinta sastra. Mayoritas adalah alumni pondok pesantren. Oleh karena itu tema yang dikaji adalah sastra remaja pesantren.

Komunitas Matapena sudah menerbitkan 30 buku terdiri dari novel, antologi cerpen dan himpunan puisi. Semuanya ditulis mahasiswa dan santri. Komunitas ini juga mengadakan roadshow tentang kepenulisan dan sastra tak kurang dari 150 lembaga pendidikan di Indonesia.

Kini Rumah Kreatif Matapena beralamat di Jl. Lingkar Selatan Wojo 182 Rt.06 Gg. Nakulo, Bangunharjo, Sewon, Bantul, DI Yogyakarta. Anda juga bisa mengaksesnya di situs http://matapenajogja.blogspot.com.

Pesantren dan Sastra

Dalam kacamata pendidikan, tidak ada perbedaan mendasar antara kampus dan pesantren. Kampus adalah tempat pengajaran ilmu bagi peserta didik lulusan SMA. Begitu pula Pesantren, lembaga pendidikan yang menaungi peserta didik dari berbagai jenjang pendidikan.

Sistem pengajaran pun tak jauh berbeda. Di samping guru menerangkan, peserta didik juga dituntut bisa presentasi. Istilah di pesantren adalah  sistem bandhongan dan sorogan.

Jika di kampus ada ujian tengah dan akhir semester, di pesantren ada istilah Imtihan. Keduanya tak punya perbedaan jauh terkait kurikulum, sistem dan budaya. Perbedaan hanya pada penggunaan istilah. Misalnya, di kampus guru disebut dosen, sedangkan di pesantren bergelar kiai atau ustadz. Peserta didik di kampus itu mahasiswa, di pesantren disapa santri.

Sebenarnya di kampus dan pesantren, sentuhan sastra sudah menjadi budaya. Sayangnya, tak ditumbuhkembangkan. Seorang mahasiswa atau santri yang jatuh cinta kepada lawan jenisnya suka  menuangkan perasaannya dengan menulis puisi. Itu adalah sastra.

Atau, kisah yang ia alami dalam satu hari didokumentasikan ke dalam buku harian menjadi cerita. Itu adalah embrio novel. Ibaratnya, seperti yang diungkapkan Lan Fang, novelis dan pembina KOPI SARENG (Komunitas Pecinta Sastra Tebuireng), “Karya mereka laksana mutiara yang tinggal dipoles agar lebih berkilau.” (Kompas, 21/6/2011)

Berkreasi di Kaliopak

Komunitas Matapena memiliki agenda tahunan, Liburan Sastra di Pesantren (LSdP). Tahun ini (LSdP #6) dilaksanakan pada 24-26 Juni 2011 di Pesantren Kaliopak, Piyungan, Yogyakarta yang dipimpin Jadul Maula. Diikuti oleh sekitar 60 peserta dari berbagai universitas dan pesantren di  Yogja, Wonosobo, Pati, Jepara, Kudus, Tasikmalaya, Indramayu, Jombang dan Madura. Kami bertujuh dari Tebuireng Jombang.

Awalnya kami hendak mengisi libur semesteran di rumah. Akan tetapi, karena acara ini terasa penting dan mengasyikkan, kami bertolak ke Jogja. Selain itu, pihak pesantren juga mendesak kami ikut. Kami yang masuk dalam komunitas KOPI SARENG menjadi rujukan teman-teman.

Hanya dengan membayar Rp. 100.000,- panitia telah menyediakan asrama penginapan plus makan tiga kali sehari. Kami berlibur sastra, belajar sambil bermain. Para novelis, cerpenis dan sastrawan muda ikut membimbing kami. Diantaranya; Isma Kaze, Akhiryati Sundari, Saefuddin Amsa, Moh. Mahrus, Ma’rifatun Baroroh, Mahbub, Damhuri, Zakki Zarung, Pijer, Fina, Peppy, M. Daroini dan masih banyak lagi. Hadir pula sastrawan Slamet Gundhono dengan orasi budaya.

Panitia sebenarnya mengundang sastrawan yang lahir dari pesantren, tetapi banyak yang berhalangan hadir. Seperti diungkapkan Isma Kaze “Kami sudah berniat mengajak M. Faizi (penyair asal Madura), namun beliau ada undangan ke Jerman untuk membacakan puisinya ” katanya. Sastrawan pesantren pun bisa  bersaing di dunia sastra Internasional.

Kegiatan dalam LSdP#6 itu dimulai sejak subuh (seusai shalat), olahraga bersama lalu sarapan. Setelah itu ada materi tentang sastra dan komunitas seperti; perkenalan 12 nilai pengembangan kunci pribadi dan sosial, motivasi menulis, menggali ide, membuat setting cerita, penokohan dan alur. Agar suasana lebih cair ada  acara menarik pemutaran film MataPena rayon Tasikmalaya, out bond penanaman nilai sambil berkarya, tugas membuat cerpen sekali duduk, tahlilan sastra, seni panggung dan teater.

Kami mendapat banyak manfaat dari liburan itu. Di samping mendapat banyak ilmu, bisa kenal banyak teman antarkampus dan pesantren. Rencana ke depan, kami—tim tujuh—akan membuat buletin atau majalah dinding yang terbit setiap bulan sekali. Selama ini banyak komunitas sastra di pesantren. Sayang mereka hanya mengadakan diskusi, perlombaan, atau bedah buku tanpa menerbitkan sesuatu.

Nah, oleh-oleh dari acara LSdP#6 ini salah satunya adalah membuat karya. Kita harus pede sekalipun hasilnya mungkin kurang maksimal. Belajar menghasilkan, bukan hanya sekedar ocehan…

Bagi yang belum memiliki kesempatan mengikuti acara tersebut, tahun depan Matapena akan mengadakan LSdP #7.

*Dimuat di Kompas, 9/8/11

**Mahasiswa Ma’had Aly Tebuireng Jombang

Rabu, 02 Mei 2012

MBAH DULLAH

Oleh : KH. Mustofa Bisri

Berkenaan dengan haul Simbah KH. Abdullah Salam Kajen, rahimahuLlah, aku turunkan kembali tulisanku saat itu. Saat kudengar kepulangan orang hebat ini ke hadirat Ilahi 25 Sya'ban 1422. Mudah-mudahan ada manfaatnya.

Di Surabaya, dalam perjalanan pulang dari Jember, saya mendapat telpon dari anak saya bahwa Mbah Dullah, KH. Abdullah Salam Kajen, telah pulang ke rahamtuLlah. Innaa liLlahi wainnaa ilaiHi raaji’uun! Dikabarkan juga, berdasarkan wasiat almarhum walmaghfurlah, jenazah beliau akan langsung dikebumikan sore hari itu juga.

SubhanaLlah! Selalu saja setiap kali ada tokoh langka yang dicintai banyak orang meninggal, saya merasa seperti anak-anak yang terpukul, lalu hati kecil bicara yang tidak-tidak. Seperti kemarin itu ketika mendengar Mbah Dullah wafat, secara spontan hati kecil saya ‘gerundel’: “Mengapa bukan koruptor dan tokoh-tokoh jahat yang sibuk pamer gagah tanpa mempedulikan kepentingan orang banyak itu yang dicabut nyawanya? Mengapa justru orang baik yang dicintai masyarakat seperti mbah Dullah yang dipanggil?” Astaghfirullah!

Sepanjang perjalanan itu pun saya terus diam dengan pikiran mengembara. Kenangan demi kenangan tentang pribadi mulia mbah Dullah, kembali melela bagai gambar hidup.

Berperawakan gagah. Hidung mancung. Mata menyorot tajam. Kumis dan jenggotnya yang putih perak, menambah wibawanya. Hampir selalu tampil dengan pakaian putih-putih bersih, menyempurnakan kebersihan raut mukanya yang sedap dipandang.

Melihat penampilan dan rumahnya yang tidak lebih baik dari gotakan tempat tinggal santri-santrinya, mungkin orang akan menganggapnya miskin; atau minimal tidak kaya. Tapi tengoklah; setiap minggu sekali pengajiannya diikuti oleh ribuan orang dari berbagai penjuru dan … semuanya disuguh makan.

Selain pengajian-pengajian itu, setiap hari beliau menerima tamu dari berbagai kalangan yang rata-rata membawa masalah untuk dimintakan pemecahannya. Mulai dari persoalan keluarga, ekonomi, hingga yang berkaitan dengan politik. Bahkan pedagang akik dan minyak pun beliau terima dan beliau ‘beri berkah’ dengan membeli dagangan mereka.

Ketika beliau masih menjadi pengurus (Syuriah) NU, aktifnya melebihi yang muda-muda. Seingat saya, beliau tidak pernah absen menghadiri musyawarah semacam Bahtsul masaail, pembahasan masalah-masalah yang berkaitan dengan agama, yang diselenggarakan wilayah maupun cabang. Pada saat pembukaan muktamar ke 28 di Situbondo, panitia meminta beliau –atas usul kiai Syahid Kemadu—untuk membuka Muktamar dengan memimpin membaca Fatihah 41 kali. Dan beliau jalan kaki dari tempat parkir yang begitu jauh ke tempat sidang, semata-mata agar tidak menyusahkan panitia.

Semasa kondisi tubuh beliau masih kuat, beliau juga melayani undangan dari berbagai daerah untuk memimpin khataman Quran, menikahkan orang, memimpin doa, dsb.
Ketika kondisi beliau sudah tidak begitu kuat, orang-orang pun menyelenggarakan acaranya di rumah beliau. Saya pernah kebetulan sowan, agak kaget di rumah beliau ternyata banyak sekali orang. Belakangan saya ketahui bahwa Mbah Dullah sedang punya gawe. Menikahkan tiga pasang calon pengantin dari berbagai daerah.

Mbah Dullah, begitu orang memanggil kiai sepuh haamilul Qur’an ini, meskipun sangat disegani dan dihormati termasuk oleh kalangan ulama sendiri, beliau termasuk kiai yang menyukai musyawarah. Beliau bersedia mendengarkan bahkan tak segan-segan meminta pendapat orang, termasuk dari kalangan yang lebih muda. Beliau rela meminjamkan telinganya hingga untuk sekedar menampung pembicaraan-pembicaraan sepele orang awam. Ini adalah bagian dari sifat tawaduk dan kedermawanan beliau yang sudah diketahui banyak orang.

Tawaduk atau rendah hati dan kedermawanan adalah sikap yang hanya bisa dijalani oleh mereka yang kuat lahir batin, seperti Mbah Dullah. Mereka yang mempunyai (sedikit) kelebihan, jarang yang mampu melakukannya. Mempunyai sedikit kelebihan, apakah itu berupa kekuatan, kekuasaan, kekayaan, atau ilmu pengetahuan, biasanya membuat orang cenderung arogan atau minimal tak mau direndahkan.

Rendah hati berbeda dengan rendah diri. Berbeda dengan rendah hati yang muncul dari pribadi yang kuat, rendah diri muncul dari kelemahan. Mbah Dullah adalah pribadi yang kuat dan gagah luar dalam. Kekuatan beliau ditopang oleh kekayaan lahir dan terutama batin. Itu sebabnya, disamping dermawan dan suka memberi, Mbah Dullah termasuk salah satu –kalau tidak malah satu-satunya – kiai yang tidak mudah menerima bantuan atau pemberian orang, apalagi sampai meminta. Pantangan. Seolah-olah beliau memang tidak membutuhkan apa-apa dari orang lain. Bukankah ini yang namanya kaya?

Ya, mbah Dullah adalah tokoh yang mulai langka di zaman ini. Tokoh yang hidupnya seolah-olah diwakafkan untuk masyarakat. Bukan saja karena beliau punya pesantren dan madrasah yang sangat berkualitas; lebih dari itu sepanjang hidupnya, mbah Dullah tidak berhenti melayani umat secara langsung maupun melalui organisasi (Nahdlatul Ulama).

Mungkin banyak orang yang melayani umat, melalui organanisi atau langsung; tetapi yang dalam hal itu, tidak mengharap dan tidak mendapat imbalan sebagaimana mbah Dullah, saya rasa sangat langka saat ini. Melayani bagi mbah Dullah adalah bagian dari memberi. Dan memberi seolah merupakan kewajiban bagi beliau, sebagaimana meminta –bahkan sekedar menerima imbalan jasa-- merupakan salah satu pantangan utama beliau.

Beliau tidak hanya memberikan waktunya untuk santri-santrinya, tapi juga untuk orang-orang awam. Beliau mempunyai pengajian umum rutin untuk kaum pria dan untuk kaum perempuan yang beliau sebut dengan tawadluk sebagai ‘belajar bersana’. Mereka yang mengaji tidak hanya beliau beri ilmu dan hikmah, tapi juga makan setelah mengaji.

Pernah ada seorang kaya yang ikut mengaji, berbisik-bisik: “Orang sekian banyaknya yang mengaji kok dikasi makan semua, kan kasihan kiai.” Dan orang ini pun sehabis mengaji menyalami mbah Dullah dengan salam tempel, bersalaman dengan menyelipkan uang. Spontan mbah Dullah minta untuk diumumkan, agar jamaah yang mengaji tidak usah bersalaman dengan beliau sehabis mengaji. “Cukup bersalaman dalam hati saja!” kata beliau. Konon orang kaya itu kemudian diajak beliau ke rumahnya yang sederhana dan diperlihatkan tumpukan karung beras yang nyaris menyentuh atap rumah, “Lihatlah, saya ini kaya!” kata beliau kepada tamunya itu.
Memang hanya hamba yang fakir ilaLlah-lah, seperti mbah Dullah, yang sebenar-benar kaya.

Kisah lain; pernah suatu hari datang menghadap beliau, seseorang dari luar daerah dengan membawa segepok uang ratusan ribu. Uang itu disodorkan kepada mbah Dullah sambil berkata: “Terimalah ini, mbah, sedekah kami ala kadarnya.”
“Di tempat Sampeyan apa sudah tak ada lagi orang faqir?” tanya mbah Dullah tanpa sedikit pun melihat tumpukan uang yang disodorkan tamunya, “kok Sampeyan repot-repot membawa sedekah kemari?”
“Orang-orang faqir di tempat saya sudah kebagian semua, mbah; semua sudah saya beri.”
“Apa Sampeyan menganggap saya ini orang faqir?” tanya mbah Dullah.
“Ya enggak, mbah …” jawab si tamu terbata-bata. Belum lagi selesai bicaranya, mbah Dullah sudah menukas dengan suara penuh wibawa: “Kalau begitu, Sampeyan bawa kembali uang Sampeyan. Berikan kepada orang faqir yang memerlukannya!”

Kisah yang beredar tentang ‘sikap kaya’ mbah Dullah semacam itu sangat banyak dan masyhur di kalangan masyarakat daerahnya.

Mbah Dullah ‘memiliki’, di samping pesantren, madrasah yang didirikan bersama rekan-rekannya para kiai setempat. Madrasah ini sangat terkenal dan berpengaruh; termasuk –kalau tidak satu-satunya— madrasah yang benar-benar mandiri dengan pengertian yang sesungguhnya dalam segala hal.
32 tahun pemerintah orde baru tak mampu menyentuhkan bantuan apa pun ke madrasah ini. Orientasi keilmuan madrasah ini pun tak tergoyahkan hingga kini. Mereka yang akan sekolah dengan niat mencari ijazah atau kepentingan-kepentingan di luar ‘menghilangkan kebodohan’, jangan coba-coba memasuki madrasah ini.

Ini bukan berarti madrasahnya itu tidak menerima pembaruan dan melawan perkembangan zaman. Sama sekali. Seperti umumnya ulama pesantren, beliau berpegang kepada ‘Al-Muhaafadhatu ‘alal qadiemis shaalih wal akhdzu bil jadiedil ashlah’, Memelihara yang lama yang relevan dan mengambil yang baru yang lebih relevan. Hal ini bisa dilihat dari kurikulum, sylabus, dan matapelajaran-matapelajaran yang diajarkan yang disesuaikan dengan kebutuhan zaman.
Singkat kata, sebagai madrasah tempat belajar, madrasah mbah Dullah mungkin sama saja dengan yang lain. Yang membedakan ialah karakternya.

Agaknya mbah Dullah –rahimahuLlah — melalui teladan dan sentuhannya kepada pesantren dan madrasahnya, ingin mencetak manusia-manusia yang kuat ‘dari dalam’; yang gagah ‘dari dalam’; yang kaya ‘dari dalam’; sebagaimana beliau sendiri. Manusia yang berani berdiri sendiri sebagai khalifah dan hanya tunduk menyerah sebagai hamba kepada Allah SWT.

Bila benar; inilah perjuang yang luar biasa berat. Betapa tidak? Kecenderungan manusia di akhir zaman ini justru kebalikan dari yang mungkin menjadi obsesi mbah Dullah. Manusia masa kini justru seperti cenderung ingin menjadi orang kuat ‘dari luar’; gagah ‘dari luar’; kaya ‘dari luar’, meski terus miskin di dalam.

Orang menganggap dirinya kuat bila memiliki sarana-sarana dan orang-orang di luar dirinya yang memperkuat; meski bila dilucuti dari semua itu menjadi lebih lemah dari makhluk yang paling lemah. Orang menganggap dirinya gagah bila mengenakan baju gagah; meski bila ditelanjangi tak lebih dari kucing kurap. Orang menganggap dirinya kaya karena merasa memiliki harta berlimpah; meski setiap saat terus merasa kekurangan.

Waba’du; sayang sekali jarang orang yang dapat menangkap kelebihan mbah Dullah yang langka itu. Bahkan yang banyak justru mereka yang menganggap dan memujanya sebagai wali yang memiliki keistimewaan khariqul ‘aadah. Dapat melihat hal-hal yang ghaib; dapat bicara dengan orang-orang yang sudah meninggal; dapat menyembuhkan segala penyakit; dsb. dst. Lalu karenanya, memperlakukan orang mulia itu sekedar semacam dukun saja. Masya Allah!

Ke-’wali’-an Mbah Dullah –waLlahu a’lam-- justru karena sepanjang hidupnya, beliau berusaha --dan membuktikan sejauh mungkin-- melaksanakan ajaran dan keteladanan pemimpin agungnya, Muhammad SAW, terutama dalam sikap, perilaku, dan kegiatan-kegiatan beliau; baik yang berhubungan dengan Allah maupun dengan sesama hambaNya.

Begitulah; Mbah Dullah yang selalu memberikan keteduhan itu telah meninggalkan kita di dunia yang semakin panas ini. Beliau sengaja berwasiat untuk segera dimakamkan apabila meninggal. Agaknya beliau, seperti saat hidup, tidak ingin menyusahkan atau merepotkan orang. Atau, siapa tahu, kerinduannya sudah tak tertahankan untuk menghadap Khaliqnya.

Dan Ahad, 25 Sya’ban 1422 / 11 November 2001 sore, ketika Mbah Dullah dipanggil ke rahmatuLlah, wasiat beliau pun dilaksanakan. Beliau dikebumikan sore itu juga di dekat surau sederhananya di Polgarut Kajen Pati.

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida dan diridai, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-sejatiKu, dan masuklah ke dalam sorgaKu!”

Selamat jalan, Mbah Dullah! AnnasakumuLlah ilaa yaumi yub’atsuun!
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Jadwal Sholat Indonesia